Persaudaraan dan Politik 2019

Dua pekan lebih berlalu pesta demokrasi selesai, banyak hal yang saya pelajari dari sebuah dinamika pemilu kali ini. Mengusung dalam sejarah pertama kali pemilihan legislatif dan eksekutif secara serentak, kekhawatiran pun tidak bisa di elakkan. Dari kekhawatiran persoalan kotak suara kardus, mencuatnya isu kecurangan, hingga panasnya persaingan dua kubu yang menjadi trending topik di kolom komentar ataupun warung kopi.

Sebagai seorang negarawan yg ikut mengawasi dan terlibat langsung dalam pemilu kali ini, tertarik lah saya untuk ikut andil langsung menjadi bagian terkecil dari pelaksana pemilu di TPS, yakni menjadi bagian dari Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di kampung saya.⁣

Pulang balik Padang ke kampung halaman, saya ikuti proseduralnya. Berkas, bimtek, koordinasi, hingga persiapan, saya lakukan dalam selingan revisi skripsian.⁣

Sampailah di hari pemilu, antusiasme masyarakat hingga mandat saksi partai dan calon presiden pun sudah terlihat semenjak rapat pleno pemungutan suara dibuka. Perjalanan pemungutan ⁣
suara pun berjalan lancar, saksi pun juga tidak banyak berkomentar ataupun komplain, hanya masyarakat yang agak sedikit komentar tentang lamanya ngantri di kursi antrian, mengeluhkan terlalu lama nya pemilih di bilik suara, karena kewajaran saja, surat suaranya saja sampai lima, belum lagi musti di tanda tangani dulu dan ditulis manual. ⁣

Namun ada hal yang mendebarkan setelah pemungutan suara, yaitu perhitungan suara, kekhawatiran saja tidak ketemu jumlah, maka akan menggangu proses lanjut, karena kalau satu saja tidak ketemu hasilnya dengan jumlah formulir model C6 KPU pemilih DPT, bisa dibayangkan bagaimana menghitung ulang semua kotak suara yg jumlah nya ada 5 itu, bisa habislah hari terbitlah pagi ceritanya.⁣

Maka sebelum perhitungan dimulai, saya bukalah rapat pleno dihadapan para saksi dan masyarakat yang ada, saya katakan “apapun nanti hasil, kita terima apa adanya, kalau nanti pun ada yang keliru dalam perhitungan, kitaa cari jalan keluar nya sama-sama, saya tau disini yang jadi saksi abang-abang saya, tante-tante saya, dan saudara-saudara saya juga di kampung ini, saya tidak ingin gara-gara pemilu ini, kita ndk tegur sapa, atau jagoan kita kalah kemudian rusak persaudaraan dengan orang-orang terdekat kita, jujur, saya mending tidak usah saja pemilu ini, atau tidak usah saja dilakukan pemilihan presiden dan anggota dewan, kalau sama2 kita yang jadi nya berantem gara-gara nya, saya lebih memprioritaskan hubungan saya dengan orang2 terdekat saya disini, hubungan saya dengan tetangga saya lebih penting dibandingkan hubungan saya dengan siapapun yang bakal jadi presiden nantinya.”⁣

Jeda, saya lemparkan senyum, dan saya katakan lantang “apakah kitaa sepakat”. ⁣

Semuanya menjawab “sepakat”. ⁣

Dan kesepakatan itu lah yg saya terima sebagai spirit awal hingga akhir dalam perhitungan suara selesai dilakukan tanpa ada kekeliruan dan perhitungan nya yg pas, perjalanan pemilu itu pun selesai pada pukul 04 pagi di hari berikutnya, ditemani beberapa saksi yang masih bertahan menunggu salinan C1 nya, dan teman-teman KPPS lainnya yg ksatria semangat mengisi salinan model C1 KPU sampai menempatkan semua dokumen per sampul hingga tersegel kembali ke dalam kardus, eh kotak suara. ⁣

Memang kasihan dan capek, tapi ini bagian proses demokrasi, perbedaan pilihan dalam proses demokrasi itu adalah hal biasa, menjadikan Indonesia secara utuh bukan tentang perihal cebong dan kampret semata, ada sesuatu yang lebih besar, bernama manusia dan saudaranya. Ada ikatan yang tak akan lepas oleh apapun, namanya ikatan persaudaraan. ⁣

Maka mumpung mau bulan Ramadhan, banyaklah haturkan minta maaf dalam khilaf dan salah, jaga persaudaraan selalu, orang terdekat lah yang membantu kita ketika sakit dan susah, belum tentu mereka yang di pilih di surat suara pemilu kemarin yang bakal menolong, tapi mereka yang menjadi tetangga-tetangga dan teman-teman hari ini lah yg akan memperjuangkan kita ~⁣

Dan yang paling penting,

bagi saya, pilpres memang telah selesai, namun persaudaraan tak akan pernah usai ~⁣

Iklan

Mulailah

Baik, ini masih dalam suasana awal tahun, saya akan coba memaksimalkan media yang ada untuk berekspresi melalui tulisan, salah satunya lewat blog. Ya terlepas dari Instagram dan Facebook yang sudah saya gunakan sebelumnya. Karena ini hobby yang saya musti maksimalkan, saya suka dengan menulis, membaca tulisan, meminjam buku teman, dan memerhatikan mu. Apaan sih 😅

Jadi saya coba memaksimalkan saja lah media yang ada, toh rekam jejak kita menulis di media sosial gampang ditemukan, tinggal enter nama di search engine di Google, bisa nemu dah blog nya kita, jadi ndak susah-susah lagi musti bongkar-bongkar lemari cari diary, cari catatan, dan barang-barang pemberian mantan. Uups 😂

Tapi satu hal dah, saya hanya ingin mencoba komitmen kembali dengan menulis, merekap cerita yang pernah terlukis, ataupun membuka kembali lembar yang hampir terkikis. Asyikk

Ya, saya mulai saja dulu dari blog sederhana ini. Berbagi gundah, suka, bahagia, semangat serta asa. Dikungkung rapi dalam aksara cerita.

Semoga berkenan ~